Perangi Deforestasi, Konsorsium Yasiwa - Yayasan Ulin Tanam Ribuan Pohon di Rawa Mesangat

Konsorsium Yasiwa -Yayasan Ulin menanam ribuan pohon di Rawa Mesangat, Sub DAS Segoi, Long Mesangat
Konsorsium Yasiwa -Yayasan Ulin menanam ribuan pohon di Rawa Mesangat, Sub DAS Segoi, Long Mesangat

Rawa Mesangat


Untuk mengembalikan ekosistem di Kawasan Ekonomi Esensial (KEE) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim), Konsorsium Yasiwa – Yayasan Ulin menanam ribuan pohon di Rawa Mesangat, Desa Sumber Sari, Kecamatan Long Mesangat, Selasa (21/11/2023).

Penanaman itu bertujuan untuk untuk pengendalian ekosistem dan restorasi hutan di wilayah Rawa Mesangat. Penanaman pohon dilakukan bersama UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Bengalon dan Bagian Sumber Daya Alam, (SDA) Kabupaten Kutai Timur.

Staf Kehati Konsorsium, Ngareng Moh Zulfikar mengatakan Rawa Mesangat merupakan lahan basah penting bagi kehidupan nelayan lokal dan Buaya Badas Hitam. Namun wilayah ini mengalami degradasi hutan karena perubahan iklim dan pernah menjadi korban kebakaran hutan besar pada tahun 1997.

“Penanaman pohon kembali sebagai bentuk untuk menjaga kestabilan area serta meningkatkan daya serap air dalam hal pencegahan banjir dan peluapan air yang berlebih. Wilayah ini sempat mengalami degradasi akibat kondisi alam, pergeseran lahan dan kebakaran 97,” jelasnya.

Dijelaskan dia, untuk menyetabilkan ekologi dan habitat area tersebut, Konsorsium Yasiwa – Yayasan Ulin menanam 2600 bibit pohon yang terdiri dari pohon Bungur, Kenanga, Kendikara, Cempaka Hutan, Tahungai dan Keratom. Untuk proses penanaman, lanjut dia, Konsorsium Yasiwa – Yayasan Ulin melibatkan puluhan nelayan lokal.

“Proses penanaman ini terbagi dua, 2000 bibit ditanam oleh Yayasan Ulin dan 600 sisanya ditanam Konsorsium bersama KPHP Bengalon dan SDA Kutim,” ibuhnya.

Diketahui, Lahan Basah Mesangat Suwi (LBMS), telah ditetapkan menjadi Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) melalui Peraturan Gubernur Kaltim Nomor 522.5/K.672/2020. Rawa Mesangat merupakan salah satu lokasi yang masuk kedalam batas KEE, dimana hal ini menjadikan lokasi tersebut untuk di lakukan pemantauan area dan management konservasi yang berkelanjutan

Ditambahkan Ngareng, dengan melibatkan puluhan nelayan, pihaknya sekaligus kampanye untuk nelayan ramah lingkungan. Pasalnya, di sekitar Rawa Mesangat masih banyak ditemukan nelayan dari desa-desa lain yang mencari ikan dengan cara disetrum. Selain melanggar hukum, penyetruman ikan juga berdampak langsung pada kehidupan Buaya Badas Hitam.

“Masih banyak nelayan yang mencari ikan dengan cara disetrum. Meski sudah ada yang ditangkap tapi tidak membuat jera. Kami terus melakukan kampanye untuk penangkapan ikan secara arif dan bukan disetrum,” paparnya.

Penyuluh UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi, Evy Hasbullah menjelaskan penanaman aneka jenis pohon ini merupakan strategi pengendalian kerusakan wilayah Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Segoi. "Salah satu upaya untuk mengurangi dampak tersebut dilakukan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan," katanya.

Sementara itu, Analis Kebijakan SDA Kutai Timur, Ita Ika Luciana menambahkan penanaman ribuan pohon di wilayah Rawa Mesangat adalah untuk menekan laju deforestasi di Kabupaten Kutai Timur. Selain itu, lahan basah secara alami memiliki 22 manfaat dan fungsi perlindungan terhadap system penyangga kehidupan.

“Sama seperti manusia, lahan basah berfungsi sebagai ginjal yang sama pentingnya untuk kehidupan. Sayangnya lahan basah sering dianggap sebagai lahan marginal sehingga dengan mudah dikonfersi dan ditelantarkan,” tutupnya.